TANJUNG JABUNG TIMUR, JAMBI – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boru (PPTSB), khususnya warga PPTSB Cabang Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. St Amang Humisar Sinaga, yang dikenal dengan sapaan Op. Gibran, mantan Ketua PPTSB Cabang Tanjung Jabung Timur, meninggal dunia pada Jumat, 16 Oktober 2026, setelah menjalani perjalanan hidup yang diwarnai perjuangan merantau, pengabdian kepada keluarga, serta pelayanan kepada komunitas.
Pada Senin, 19 Oktober 2026, keluarga melaksanakan Adat Partuat atau Saur Matua sebagai bagian dari penghormatan adat Batak kepada almarhum. Dalam tradisi Batak, Saur Matua merupakan tahapan adat kematian yang memiliki makna khusus dalam kehidupan keluarga dan komunitas, dengan pelaksanaannya mengikuti ketentuan adat serta keadaan keluarga yang berduka.
Ketua Umum II PPTSB Pusat Drs Albertus Sinaga MPd dan Pengurus PPTSB Wilayah Provinsi Jambi, Pengurus PPTSB Cabang Kota Jambi I dan II dan Pengurus PPTSB Cabang lainnya ikut memberikan penghormatan terakhir kepada Amang St Humisar Sinaga.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, serta warga PPTSB dan masyarakat Batak di Tanjung Jabung Timur. Sosok St Humisar Sinaga yang juga pernah sebagai Ketua Bidang Humas dan Infokom PPTSB Wilayah Provinsi Jambi bersama Bp Kristian Sinaga dan R. Manihuruk/ Br Sinaga, dikenang sebagai pribadi yang mengayomi, mudah dijumpai untuk berbagi persoalan, dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan sosial warga di perantauan.
Kisah perjalanan dan pengabdian almarhum disampaikan oleh Ketua Umum II PPTSB Pusat Drs. Albertus Sinaga, M.Pd., yang mengenang peran Humisar Sinaga dalam membangun kebersamaan keluarga besar Toga Sinaga di wilayah Tanjung Jabung Timur.
Merintis Kehidupan di Tanah Rantau
Humisar Sinaga lahir di Pahae pada 1949. Pada dekade 1980-an, ia merantau ke Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, untuk menjalani kehidupan di tanah rantau.
Pada masa itu, perjalanan menuju wilayah Jambi dan Tanjung Jabung Timur bukanlah perkara mudah. Infrastruktur transportasi masih sangat terbatas. Jalan dari Muara Bungo menuju Kota Jambi sebagian besar masih berupa jalan tanah, sehingga perjalanan sejauh kurang lebih 250 kilometer dapat memakan waktu tiga hingga lima hari, bergantung pada kondisi perjalanan.
Dalam Kenangan St Humisar Sinaga saat Rakerwil PPTSB Provinsi Jambi di Gedung Budi Mulia mayang Jambi Minggu 5 Agustus 2018. (Foto By: Asenk Lee Saragih)
Setelah tiba di Kota Jambi, perjalanan menuju Tanjung Jabung Timur masih harus dilanjutkan menggunakan kapal. Kondisi di wilayah tujuan pun tidak jauh berbeda. Jalan darat belum tersedia secara memadai, sementara perjalanan antardaerah dan kunjungan antarwarga banyak mengandalkan pompong, yakni perahu bermotor berukuran kecil.
Keterbatasan sarana transportasi tersebut membuat hubungan sosial antarkeluarga tidak selalu mudah dijalankan. Jarak yang secara geografis tampak berdekatan dapat menjadi tantangan tersendiri karena perjalanan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.
Dalam situasi seperti itulah St Humisar Sinaga membangun kehidupan bersama keluarga dan menjalin hubungan dengan sesama perantau. Pengalaman hidup di tengah keterbatasan turut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di Tanjung Jabung Timur.
Infrastruktur Membuka Jalan Bagi Kebersamaan
Memasuki akhir dekade 1990-an, pembangunan sarana dan prasarana transportasi mulai membawa perubahan bagi masyarakat Tanjung Jabung Timur. Akses darat dari Kota Jambi menuju wilayah tersebut semakin berkembang, disusul pembangunan jalan yang menghubungkan sejumlah kecamatan.
Perubahan ini bukan sekadar mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi tumbuhnya hubungan sosial antarkeluarga dan komunitas perantau.
Warga Batak yang bermukim di Tanjung Jabung Timur semakin intensif saling mengunjungi, berkumpul, dan menyelenggarakan kegiatan sosial, termasuk arisan. Keluarga besar Toga Sinaga, boru, bere, dan ibebere turut mengambil bagian dalam perkembangan tersebut dengan membangun kebersamaan yang lebih terorganisasi.
Bagi masyarakat perantauan yang tersebar di wilayah luas, pertemuan dan perkumpulan memiliki arti penting. Selain mempererat hubungan kekeluargaan, kegiatan tersebut menjadi sarana mempertahankan identitas, adat istiadat, dan nilai gotong royong di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
![]() |
| Rombongan PPTSB Wilayah, Cab WKS/Tebing Tinggi dan Cab Tanjabtim menyampaikan turut berduka cita.(Foto-Foto Istimewa) |
Peran Penting dalam Pembentukan PPTSB Cabang Tanjung Jabung Timur
Pada 2017, jumlah warga Toga Sinaga beserta boru, bere, dan ibebere yang tergabung dalam PPTSB di Tanjung Jabung Timur diperkirakan mencapai 65 kepala keluarga.
Mereka tersebar dalam tiga sektor yang menjangkau 11 kecamatan, di wilayah kabupaten dengan luas sekitar 5.085 kilometer persegi. Bentang wilayah yang luas dan jarak antarsektor yang dapat mencapai lebih dari 20 kilometer menjadi tantangan tersendiri dalam mengoordinasikan kegiatan organisasi.
Kondisi tersebut mendorong perlunya wadah organisasi yang mampu merangkul seluruh sektor, memperkuat komunikasi, serta menjaga hubungan kekeluargaan di antara warga.
Pada Agustus 2017, pengurus PPTSB Cabang Tanjung Jabung Timur resmi dilantik. Amang Humisar Sinaga dipercaya memimpin cabang tersebut sebagai ketua pertama dalam upaya mempererat persaudaraan dan mengoordinasikan warga Toga Sinaga yang tersebar di berbagai kecamatan.
Penunjukan itu menempatkan almarhum pada tanggung jawab penting. Ia tidak hanya memimpin organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun rasa memiliki dan solidaritas di tengah komunitas yang menghadapi tantangan geografis.
Dikenang sebagai Sosok yang Mengayomi
Menurut kenangan yang disampaikan Drs. Albertus Sinaga, M.Pd., Humisar Sinaga dikenal luas, bukan hanya di lingkungan PPTSB, melainkan juga di kalangan masyarakat Batak dan warga dari suku-suku lain yang tinggal di Tanjung Jabung Timur.
Sifatnya yang mengayomi membuat almarhum dikenal sebagai tempat mengadu bagi mereka yang membutuhkan pertolongan, nasihat, atau dukungan. Kehadirannya menjadi pengikat hubungan sosial, melampaui batas organisasi maupun latar belakang suku.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kepemimpinan tidak selalu diukur dari lamanya seseorang memegang jabatan. Ada pula nilai yang tumbuh dari kesediaan mendengarkan, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan menghadirkan rasa aman dan kekeluargaan.
Nilai-nilai itulah yang melekat dalam kenangan terhadap Humisar Sinaga. Bagi keluarga besar PPTSB, pengabdiannya menjadi bagian dari sejarah pertumbuhan organisasi di Tanjung Jabung Timur, sekaligus teladan tentang pentingnya menjaga persaudaraan di tanah rantau.
Tetap Dikenang di Tengah Ujian Kesehatan
Perjalanan kepemimpinan Humisar Sinaga tidak berlangsung tanpa tantangan. Setelah sekitar tiga tahun menjabat sebagai ketua cabang, almarhum mengalami gangguan kesehatan yang berdampak serius terhadap penglihatannya.
Menurut keterangan Albertus Sinaga, kemampuan penglihatan almarhum saat itu sangat terbatas, hanya mampu melihat objek hingga jarak sekitar dua meter.
Kondisi tersebut menjadi ujian berat dalam kehidupannya dan turut memengaruhi keberlanjutan tugas organisasi. Selanjutnya, kepemimpinan cabang diteruskan oleh wakil ketua, Arifin Simanjorang, yang kemudian melanjutkan tanggung jawab organisasi hingga saat ini.
Meski tidak lagi dapat menjalankan tugas kepemimpinan seperti sebelumnya, kontribusi Humisar Sinaga dalam perjalanan PPTSB Cabang Tanjung Jabung Timur tetap menjadi bagian penting dari ingatan kolektif warga.
![]() |
| Ketua Umum II PPTSB Pusat Drs Albertus Sinaga MPd (paling kiri) hadir pada acara Adat Pemakaman. |
Meninggalkan Keluarga dan Warisan Keteladanan
Pada Jumat, 16 Oktober 2026, Humisar Sinaga menghadap Tuhan Yang Maha Esa dalam usia 77 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri, Op. Gibran boru Sitompul, seorang anak laki-laki, enam anak perempuan, serta 16 orang cucu.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi keluarga yang ditinggalkan. Namun, perjalanan hidup yang telah dilaluinya juga meninggalkan kenangan tentang perjuangan membangun kehidupan di perantauan, pengabdian kepada keluarga, dan kepedulian terhadap sesama.
Pada Senin, 19 Oktober 2026, keluarga melaksanakan adat partuat atau saur matua sebagai bagian dari penghormatan adat Batak kepada almarhum. Dalam tradisi Batak, saur matua merupakan tahapan adat kematian yang memiliki makna khusus dalam kehidupan keluarga dan komunitas, dengan pelaksanaannya mengikuti ketentuan adat serta keadaan keluarga yang berduka.
Bagi masyarakat Batak, penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal bukan hanya menjadi ungkapan kesedihan, melainkan juga momentum mengenang perjalanan hidup, nilai-nilai yang diwariskan, serta hubungan kekeluargaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Selamat Jalan, Amang St Humisar Sinaga
Kepergian Amang Humisar Sinaga menutup perjalanan panjang seorang perantau asal Pahae yang pernah turut mengambil bagian dalam merajut persaudaraan Toga Sinaga di Tanjung Jabung Timur.
Dari masa ketika perjalanan antardaerah masih sulit hingga berkembangnya akses transportasi dan organisasi kekeluargaan, almarhum menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat Batak di tanah rantau.
Jabatan sebagai Ketua PPTSB Cabang Tanjung Jabung Timur mungkin telah berakhir bertahun-tahun lalu. Namun, kenangan tentang sosok yang mengayomi dan pengabdiannya kepada komunitas akan tetap hidup dalam ingatan keluarga, kerabat, dan warga yang pernah mengenalnya.
Selamat jalan, Amang Humisar Sinaga, Op. Gibran. Kiranya Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan kepada istri, anak-anak, cucu, serta seluruh keluarga yang ditinggalkan. Horas! Selamat beristirahat dalam damai bersama Tuhan. (AsenkLeeSaragih/Infokom PPTSB)
![]() |
| Dalam Kenangan St Humisar Sinaga saat Rakerwil PPTSB Provinsi Jambi di Gedung Budi Mulia mayang Jambi Minggu 5 Agustus 2018. (Foto By: Asenk Lee Saragih) |
| Dalam Kenangan St Humisar Sinaga saat Rakerwil PPTSB Provinsi Jambi di Gedung Budi Mulia mayang Jambi Minggu 5 Agustus 2018. (Foto By: Asenk Lee Saragih) |
a/n PPTSB Wilayah Provinsi Jambi Menyampaikan Turut Berdukacita atas Berpulangnya : HUMISAR SINAGA(+)/Br.SITOMPUL (Op.Gibran doli). Mantan Ketua Cabang Tanjabtim. Semoga Seluruh Keluarga diberikan Kekuatan dan Penghiburan . R.Sinaga/Br.Sitinjak. Ketua PPTSB Wilayah Jambi.

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


0 Komentar