Kolom: Paul Manjo Sinaga, SE.
NAGALAPO: - Dalam punguan, hal itu jelas dan nyata ditorehkan: PARSADAAN! Ditorehkan pada huruf awal nama punguan 'PPTSB'. Ya, huruf P. Singkatan 'PARSADAAN' atau 'keSATUan'.
Tulisan ini perlu kami buat agar kita kembali diberi pemahaman dan pencerahan bahwa PPTSB didirikan untuk 'SATU'. Bukan untuk DUA atau lebih. Itu adalah sejarah. Sejarah dari pembentukan PPTSB lebih dari 75 tahun yang lalu, dimana para turunan Toga Sinaga berkumpul dan menyepakati sebuah wadah tempat ber-SATU. Bahwa yang berkumpul dan menyepakati wadah ini adalah turunan Toga Sinaga yang sudah berbudaya Simalungun, Karo atau Pakpak. Artinya tidak hanya sebatas turunan Toga Sinaga yang berbudaya Toba.
Jika kita bedah dalam bingkai Sosiologis dan Antropologis, inilah fakta yang tak bisa dibantah: Kita adalah SATU DARAH.
Secara Antropologi, turunan Toga Sinaga adalah apa yang disebut para antropolog sebagai unilineal descent group. Leluhurnya berasal dari dua (2) ras hybrida:
Ausutrola Melanesoid dengan Austronesia (Proto Melayu)
Kita adalah satu kelompok keturunan yang ditarik dari satu garis ayah. Kita semua adalah anak, boru, bere, ibebere dari satu kakek: Toga Sinaga.
Toga Sinaga lahir dari Si Raja Lontung. Si Raja Lontung lahir dari Si Raja Batak. Jejak budayanya adalah: Huta Sianjur Mula2 - Huta Ulu Darat - Huta Hariara Maranak - Huta Toga Sinaga (di URAT)
Ini bukan mitos. Ini adalah silsilah, tarombo yang hidup. Dalam ilmu Antropologi Batak, inilah yang disebut Marga sebagai Identitas Kolektif. Darah tidak pernah bertanya: Kau dibesarkan dengan logat Toba, Simalungun, Karo atau Pakpak? Darah hanya mengenal satu hal: kau adalah Sinaga.
Inilah keunikan kita yang tidak dimiliki banyak marga lain. Jauh sebelum Indonesia mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika, leluhur kita sudah mempraktikkannya. PPTSB sejak awal bukanlah punguan Toba. Ia adalah punguan lintas budaya. Ada Sinaga yang marhata Simalungun di Siantar, ada Sinaga yang cakap Karo di Tanah Karo, ada Sinaga yang berbahasa Pakpak di Dairi. Tapi semuanya sepakat: rap ma hita di bagas ni Parsadaan Toga Sinaga Boru dohot Bere.
Itu sebabnya, jika hari ini ada yang mencoba mengkotak-kotakkan - "ini Sinaga Toba, itu Sinaga Simalungun" - maka dia sedang melawan sejarah dan melawan Antropologi marga itu sendiri.
Lalu, secara Sosiologis, apa arti huruf P - PARSADAAN itu?
Sosiolog Emile Durkheim menyebutnya Solidaritas Mekanik. Solidaritas yang lahir karena kita merasa sama. Sama marga, sama leluhur, sama darah. Di perantauan, di tengah kerasnya Jakarta, di dinginnya Eropa, ketika kita bertemu orang bermarga Sinaga, ada rasa hasadaon yang otomatis muncul. Tidak perlu ditanya KTP-nya, tidak perlu ditanya partainya apa.
Parsadaan adalah modal sosial kita yang paling mahal.
Tapi modal sosial ini rapuh. Ia bisa hancur bukan oleh orang luar, tapi oleh kita sendiri. Hancur ketika di dalam punguan, kita lebih sibuk 'MENGGORENG' kekurangan sesama daripada merayakan kelebihannya.
Mari jujur. Di setiap grup WA PPTSB, di setiap acara punguan, seringkali energi kita habis untuk apa? Membicarakan siapa yang tidak datang, siapa yang tidak iuran, siapa pengurus yang begini-begitu, siapa yang gaya hidupnya tidak kita suka. Kekurangan saudara kita kita goreng garing, kita bagi-bagi, kita jadikan berita utama.
Itu bukan Parsadaan. Itu Parbadaon. Membuat perpecahan.
Pejuang Hasadaon yang sejati paham satu kaidah sosiologi dasar: Punguan bukan kumpulan orang sempurna. Punguan adalah kumpulan orang yang tidak sempurna yang bersepakat untuk saling menyempurnakan.
Jika ada dongan tubu kita yang lemah ekonominya, tugas Parsadaan adalah menopangnya, bukan menghinanya. Jika ada boru kita yang tersandung masalah, tugas kita adalah menutupinya dengan ulos pengampunan, bukan menelanjanginya di depan umum. Itulah makna Dalihan Na Tolu yang kita junjung: Somba Marhula-hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu.
Manat mardongan tubu artinya hati-hati, cermat, dan penuh kasih menjaga hubungan dengan sesama Sinaga. Menjaga aibnya seperti menjaga aib sendiri.
Hari ini, PPTSB menuju usia hampir 100 tahun. Usia yang sangat dewasa. Pertanyaan antropologisnya adalah: apakah kita akan tetap menjadi sebuah klan yang solid, atau hanya menjadi sebuah paguyuban arisan yang isinya ghibah?
Menjadi pejuang Hasadaon di PPTSB zaman sekarang tidak perlu angkat pedang. Cukup lakukan tiga hal sederhana:
1. Berhenti Menggoreng. Jika ada kekurangan dongan tubu, telepon dia langsung, doakan dia, bantu diam-diam. Jangan jadikan bahan obrolan di warung kopi punguan.
2. Perluas Definisi 'Kita'. Jangan hanya nyaman dengan Sinaga yang satu gereja, satu kampung, atau satu selera politik dengan kita. Ingat, pendiri PPTSB dahulu sudah melampaui sekat budaya. Sinaga Simalungun, Karo, Pakpak adalah KITA.
3. Kembali ke Tarombo. Ajari anak-anak kita bahwa mereka bukan hanya Sinaga, tapi cucu Si Raja Lontung, cicit Si Raja Batak. Ketika akar itu kuat, pohon tidak akan mudah tumbang oleh angin gosip.
Akhir kata, Parsadaan itu bukan slogan di spanduk. Parsadaan itu adalah keputusan harian untuk memilih merangkul daripada memukul, memilih menutupi daripada membuka aib.
Karena pada akhirnya, ketika kita semua sudah tiada, yang akan diingat orang bukan seberapa hebat kita mengkritik sesama, tapi seberapa besar cinta kita menjaga SATU nama itu: *SINAGA.
NAGALAPO
Horas... Mejuahjuah.. njuahjuah!
Paul Manjo Sinaga, SE.
Pemerhati Sosial Budaya Batak / Turunan Toga Sinaga


0 Komentar