Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga
Horas, Mejuahjuah.
Saya membaca tulisan Amang Paul Manjo Sinaga tentang Pejuang Hasadaon. Niatnya sangat mulia dan saya hormati.
Sebagai sesama pemerhati budaya, saya sebagsi pegiat lingkungan juga ingin urun rembuk, bukan untuk berdebat, tapi untuk memperkaya agar pesan hasadaon itu makin kokoh secara ilmu.
Saya tulis ini dengan catatan tiga kaca mata saja: Batakologi, Filsafat Budaya, dan Sejarah Marga.
1. Soal Parsadaan.
Saya setuju Parsadaan itu modal mahal. Tapi dalam sejarah marga, Parsadaan di PPTSB sejak awal bukanlah berarti kita harus seragam. Justru karena leluhur kita sadar ada Sinaga yang dibesarkan dengan budaya Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, maka dibikinlah wadah bernama Parsadaan. Artinya wadah untuk bermusyawarah dalam perbedaan.
Jadi kalau hari ini ada yang menyebut dirinya Sinaga Simalungun atau Sinaga Karo, itu bukan melawan Parsadaan. Itu justru bukti bahwa Parsadaan itu hidup dan menghargai keberagaman budaya dalam satu darah POMPARAN TOGA SINAGA.
2. Soal Darah dan Adat.
Tulisan Amang Paul menyebut kita satu darah. Itu benar. Tapi dalam filsafat Batak, darah saja belum cukup. Leluhur mengajarkan Sahala, Hamoraon, Hasangapon. Marga itu bukan hanya soal keturunan, tapi soal tanggung jawab adat.
Manat Mardongan Tubu yang Amang TUMPAL kutip, dalam ruhut adat bukan berarti kita menutupi kesalahan saudara. Artinya kita hati-hati dan menyelesaikan persoalan pada forumnya, yaitu runggu. Adat Batak justru sangat terbuka dalam menyelesaikan masalah, bukan ditutupi.
3. Soal Teori Sosiologi dan Sejarah.
Amang TUMPAL mengutip Durkheim tentang Solidaritas Mekanik. Mohon izin, mungkin ada sedikit kekeliruan penempatan. Solidaritas Mekanik itu untuk masyarakat kecil yang homogen. Sementara PPTSB kita di perantauan, anggotanya sudah beragam profesi dan latar belakang, itu dalam sosiologi lebih pas disebut Solidaritas Organik, yaitu bersatu karena saling membutuhkan.
Juga soal asal-usul ras dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, saya kira perlu data dan sumber pustaka yang lebih lengkap agar tidak terjadi lompatan sejarah. Tarombo kita memang sakral, tapi jika sudah masuk ke ranah migrasi ras Proto Melayu, kita perlu rujukan arkeologi dan linguistik agar kuat secara akademik.
Penutup.
Saya tidak mengurangi rasa hormat sedikitpun pada Amang Paul. Pesan untuk berhenti menggoreng kekurangan dongan tubu adalah pesan yang sangat baik dan perlu.
Saya hanya menambahkan: Hasadaon yang kuat bukan hasadaon yang takut pada perbedaan pendapat. Hasadaon yang kuat adalah hasadaon yang berani ber-runggu dengan jujur, polin, lalu tetap sepiring makan bersama (manat mardongan tubu).
Kiranya catatan kecil siang ini bisa membuat diskusi kita tentang PPTSB semakin dewasa dan bermartabat.
Mauliate. Horas.
*Wilmar Eliaser Simandjorang SINAGA-Pemerhati Budaya Batak - Dolok Pusuk Buhit.
(Op.CALVIN OJAHAN).


0 Komentar