Oleh: Drs. Sabam Sinaga (Op. Batara)
Merajut Parmudaron, Meneguhkan Dalihan Natolu, Menuju Mubes XVI PPTSB Tahun 2026
Menjelang Mubes XVI PPTSB Tahun 2026, ada satu hal yang patut kita renungkan bersama: apa yang sesungguhnya harus kita jaga ketika kita berkumpul sebagai satu keluarga besar Toga Sinaga?
Dalam kehidupan sehari-hari keturunan Toga Sinaga, Sitolu Ompu dan Sisia Ama memiliki makna penting dalam hubungan kekerabatan dan parmudaron. Di dalamnya terkandung nilai saling menghormati, menghargai, dan menjaga persaudaraan.
Karena itu, adat hendaknya tidak hanya dipahami sebagai pelaksanaan ulaon, tetapi juga sebagai nilai yang hidup dalam sikap dan perilaku. Dalihan Natolu menjadi landasan dalam menata hubungan antarsaudara secara baik dan bermartabat.
Sebelum melihat perbedaan, mari kita melihat persaudaraan. Sebelum mencari kekurangan orang lain, mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah hati kita terbuka menerima kebenaran?
Sebagai orang Kristen, kita diingatkan dalam 1 Samuel 16:7:
«“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”»
Ayat ini mengingatkan bahwa apa yang tampak di mata belum tentu menggambarkan seluruh isi hati seseorang. Karena itu, dalam kehidupan bersama, termasuk ketika menentukan kepemimpinan, kita perlu mempertimbangkan rekam jejak, integritas, keteladanan, tanggung jawab, kemampuan melayani, dan ketulusan hati.
Jangan sampai kita terlalu sibuk melihat kesalahan sehingga hati tertutup terhadap kebenaran. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam sebuah organisasi besar. Yang perlu dijaga adalah agar perbedaan tidak menghilangkan parmudaron.
Mubes Bukan Sekadar Pergantian Kepemimpinan
Mubes XVI hendaknya dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan, meneguhkan nilai adat dan budaya, serta memikirkan masa depan Toga Sinaga di tengah perubahan zaman.
Generasi muda kita hidup dalam dunia teknologi. Mereka membutuhkan bukan hanya cerita tentang adat, tetapi juga pemahaman, pengalaman, ruang belajar, dan kesempatan untuk menghidupi adat dan budaya dalam kehidupan modern.
Karena itu, gagasan Gerakan 1000 Sinaga dan sosialisasi adat serta budaya kepada generasi muda dapat menjadi bagian dari semangat pemberdayaan sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
Gerakan tersebut bukan sekadar persoalan angka atau dana, tetapi dapat dimaknai sebagai simbol gotong royong dan kepedulian bersama. Besar kecilnya kontribusi bukan ukuran utama; yang penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa setiap Sinaga dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama dan generasi berikutnya.
Mari Menjaga Hati
Menuju Mubes XVI, marilah kita tidak terjebak pada pertanyaan siapa yang paling benar, tetapi belajar bertanya: apa yang benar dan apa yang bermanfaat bagi persaudaraan?
Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda pandangan. Tetapi kita tetap satu dalam parmudaron.
Kita boleh mempunyai cara berbeda dalam melihat masa depan, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita lupa bahwa kita berdiri di atas akar yang sama: Toga Sinaga, adat dan budaya, serta Dalihan Natolu.
Sebagai orang percaya, kita menyerahkan seluruh proses kepada Tuhan.
DOA PENUTUP
Tuhan Yesus yang penuh kasih,
Kami menyerahkan Mubes XVI PPTSB Tahun 2026 ke dalam tangan-Mu. Satukanlah hati kami sebagai keluarga besar Toga Sinaga. Berikan kami pikiran yang jernih, hati yang tulus, dan kebijaksanaan untuk melihat kebenaran, menghargai perbedaan, serta memilih dengan penuh tanggung jawab.
Jauhkan kami dari kesombongan, prasangka, dan kepentingan pribadi. Tuntunlah setiap pemimpin dan seluruh peserta Mubes agar mengutamakan pelayanan, integritas, keteladanan, persaudaraan, dan kasih.
Berkatilah Gerakan 1000 Sinaga serta upaya melestarikan adat dan budaya bagi generasi muda, agar menjadi karya yang bermanfaat bagi keluarga besar Toga Sinaga dan generasi yang akan datang.
Kiranya kami boleh berbeda dalam pilihan dan pandangan, tetapi tetap satu dalam parmudaron, Dalihan Natolu, dan kasih.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.
«“Jangan kita terlalu sibuk melihat kesalahan, sehingga hati kita tertutup untuk menerima kebenaran. Mata melihat, hati menimbang, tetapi Tuhan melihat hati.”»

.jpeg)

0 Komentar