Oleh: Drs. Sabam Sinaga (Op. Batara)
Pendahuluan
Kekuatan utama PPTSB bukan hanya terletak pada struktur organisasi, jumlah anggota, atau luasnya wilayah, tetapi pada kemampuan seluruh warga menjaga dan menghidupkan nilai luhur adat Batak Toba sebagai dasar persaudaraan.
Dalihan Natolu, patik/uhum, umpama, umpasa, dan holong merupakan satu kesatuan nilai. Dalihan Natolu mengatur hubungan, patik/uhum menjadi pedoman, umpama dan umpasa memberikan tuntunan kehidupan, sedangkan holong menjadi jiwa yang merajut semuanya.
1. Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru, Somba Marhula-hula
Manat mardongan tubu, elek marboru, somba marhula-hula merupakan tiga dasar hubungan dalam Dalihan Natolu.
Manat mardongan tubu mengajarkan agar sesama dongan tubu saling menjaga perkataan, sikap, dan perbuatan.
Elek marboru mengajarkan kasih, perhatian, kelembutan, dan penghargaan kepada boru.
Somba marhula-hula mengajarkan penghormatan, kerendahan hati, dan penghargaan kepada hula-hula.
Ketiganya harus menjadi perilaku nyata dalam tubuh PPTSB, bukan hanya ungkapan yang diucapkan dalam acara adat.
2. Sisada Lulu Anak, Sisada Lulu Boru
Sisada lulu anak, sisada lulu boru mengandung makna bahwa anak dan boru merupakan satu kesatuan keluarga dalam mencapai tujuan bersama.
Dalam kehidupan PPTSB:
Beda peran, satu tujuan.
Beda pendapat, tetap bersaudara.
Beda kemampuan, tetap saling menghargai.
Kepentingan pribadi maupun kelompok tidak boleh mengalahkan kepentingan persaudaraan.
3. Hata sebagai Dasar Menjaga Persaudaraan
Hata atau perkataan mempunyai kekuatan besar dalam kehidupan manusia. Perkataan yang baik dapat menjadi jembatan persaudaraan. Sebaliknya, perkataan yang tidak dipertimbangkan dapat menimbulkan luka dan perselisihan.
Karena itu, setiap warga PPTSB hendaknya berbicara dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan penuh tanggung jawab. Hata na denggan gabe pasupasu; hata na so denggan boi gabe parsalisian.
4. Umpama dan Umpasa sebagai Pedoman
“Tampulon aek do namardongan sabutuha.” Air dapat dibelah, tetapi akhirnya kembali menyatu. Demikian juga dongan sabutuha. Perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi hubungan persaudaraan jangan sampai terputus.
“Aek godang, aek laut, dos ni roha do sibahen na saut.” Kesatuan hati merupakan kekuatan dalam mencapai kesepakatan. “Jonok do na marsihaholongan, dao do na marsisonggangan.”
Kasih mendekatkan, sedangkan pertentangan menjauhkan. Umpama dan umpasa tersebut sangat relevan menjadi pedoman kehidupan warga PPTSB.
5. Patik/Uhum dalam Kehidupan PPTSB
Patik/uhum menjadi pedoman agar kehidupan bersama berjalan tertib dan adil. Dalam tubuh PPTSB, patik/uhum harus berjalan bersama nilai adat, AD/ART, keputusan musyawarah, serta prinsip keadilan.
Penegakan aturan hendaknya tetap dilandasi holong. Patik/uhum tanpa holong dapat menjadi keras.
Holong tanpa patik/uhum dapat kehilangan arah. Keduanya harus berjalan bersama untuk menjaga persaudaraan.
6. Holong sebagai Dasar Religius
Holong berarti kasih. Kasih mengajarkan agar manusia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan dan kehormatan sesamanya.
Dalam kehidupan PPTSB, kasih harus tampak dalam kesediaan untuk menghormati, mendengar, memahami, mengampuni, dan merajut kembali hubungan yang renggang.
Nilai ini sejalan dengan ajaran Alkitab:
“Supaya kamu saling mengasihi.”
(Yohanes 13:34)
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati.”
(1 Korintus 13:4)
“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan.”
(Kolose 3:14)
“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”
(Mazmur 133:1)
7. Adat dan Kasih dalam Tubuh PPTSB
Adat mengajarkan bagaimana kita menempatkan diri. Dalihan Natolu mengajarkan bagaimana kita berhubungan. Patik/uhum mengajarkan bagaimana kita bertindak. Umpama dan umpasa mengajarkan bagaimana kita mengambil hikmat. (Penulis Adalah Ketua Dewan Pemangku Adat PPTSB Pusat)


0 Komentar