REVITALISASI FALSAFAH TOGA SINAGA


Membangun Kembali Uhum, Holong, dan Parsadaan Menuju PPTSB yang Bersatu dan Berkelanjutan.

BAHAN PEMIKIRAN MUBES XVI: 
Drs. Sabam Sinaga (Op. Batara)-Ketua Dewan Pemangku Adat PPTSB Pusat.

I. PENGANTAR
Saya menyampaikan pemikiran ini sebagai bagian dari tanggung jawab saya sebagai Ketua Dewan Pemangku Adat PPTSB Pusat. Saya tidak bermaksud menyalahkan siapa pun. Saya juga tidak bermaksud membela siapa pun.

Yang saya ingin sampaikan adalah apa yang saya lihat, saya rasakan, dan saya renungkan selama mengikuti perjalanan PPTSB. Kita semua adalah bagian dari satu keluarga besar.

Karena itu, kalau ada sesuatu yang perlu kita perbaiki, marilah kita perbaiki bersama. Kalau ada sesuatu yang perlu kita luruskan, marilah kita luruskan bersama. 

Tujuan kita hanya satu: menjaga persaudaraan dan keutuhan Pomparan Toga Sinaga.

II. SINAGA SI TOLU OP, SISIA AMA

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal ungkapan: SINAGA SI TOLU OP, SISIA AMA

Kita mengenal: Sinaga Bonor, Sinaga Op. Ratus, Sinaga Uruk. Ketiganya merupakan bagian dari Toga Sinaga. Walaupun berbeda cabang, kita tetap mempunyai satu akar. Kita mempunyai satu ama. Kita mempunyai hubungan persaudaraan.

Karena itu, perbedaan jangan menjadi alasan untuk saling menjauh. Perbedaan harus menjadi kekayaan untuk memperkuat parsadaan. Bagi saya, inilah salah satu dasar yang harus selalu kita ingat:

BERBEDA CABANG, TETAPI SATU AKAR.
BERBEDA PANDANGAN, TETAPI TETAP NAMARHAHA MARANGGI.
III. SEJARAH DAN TUGU TOGA SINAGA

Perjalanan Pomparan Toga Sinaga sudah sangat panjang. Sejak sekitar tahun 1940 sampai sekarang, para pendahulu kita telah memberikan tenaga, pikiran, waktu, dan pengorbanan untuk membangun persaudaraan.

Pada tahun 1970 berdirilah Tugu Toga Sinaga. Peresmiannya dilakukan dengan pesta besar selama satu minggu. Bagi saya, tugu bukan hanya sebuah bangunan. Tugu adalah tanda sejarah.

Tugu mengingatkan kita kepada para pendahulu. Tugu mengingatkan kita kepada asal-usul. Tugu mengingatkan kita kepada tanggung jawab generasi sekarang untuk meneruskan apa yang baik kepada generasi berikutnya.

Karena itu, yang penting bukan hanya menjaga tugunya. Yang lebih penting adalah menjaga makna dan falsafah yang ada di dalamnya.

IV. TIMBANGAN

Di puncak Tugu Toga Sinaga terdapat lambang timbangan. Ada falsafah yang sangat dalam: PARHATIAN SIBOLA TIMBANG, PARNINGGALA SIBOLA TALI.

Timbangan mengingatkan kita supaya berlaku adil. Jangan berat sebelah. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan kepentingan sendiri. Dalam kehidupan parsadaan, setiap persoalan harus kita timbang dengan pikiran yang jernih dan hati yang tenang.

Pemimpin harus mau mendengar. Anggota harus mau menghormati. Yang berbeda pendapat tetap saudara. Timbangan mengingatkan kita bahwa setiap keputusan mempunyai akibat bagi orang lain.

V. CERMIN TIGA SISI

Di puncak tugu juga terdapat cermin besar dari tiga sisi. Menurut pemahaman saya, cermin itu mempunyai pesan yang sangat dalam. Cermin mengajak kita melihat diri sendiri. Sebelum melihat kekurangan orang lain, lihatlah diri kita.

Sebelum menilai saudara kita, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya sudah menjalankan Uhum dohot Holong? Tiga sisi cermin dapat kita renungkan sebagai: Pertama, melihat diri sendiri.

Apakah saya sudah benar dalam bersikap? Kedua, melihat saudara. Apakah tindakan saya membawa kebaikan bagi saudara saya? Ketiga, melihat generasi berikutnya. Apa yang akan mereka lihat dan pelajari dari kita?

Karena itu: TIMBANGAN MENGAJARKAN KEADILAN.
CERMIN MENGAJARKAN INTROSPEKSI.

Sebelum menimbang orang lain, marilah kita bercermin kepada diri sendiri.

VI. DELAPAN FALSAFAH TOGA SINAGA
1. PARHATIAN SIBOLA TIMBANG, PARNINGGALA SIBOLA TALI

Berlaku adil dan mempunyai ukuran yang sama dalam mengambil keputusan.

2. TUGINJANG SORA MONGGAL, TUTORU NASORA MELENG

Yang di atas dan yang di bawah harus saling menghargai dan saling membutuhkan.

3. MANGANGKAT RAP TU GINJANG, MANIMBUNG RAP TU TORU

Kalau senang, kita bersama. Kalau susah, kita juga bersama.

4. SISADA LULU ANAK, SISADA LULU BORU

Anak dan boru adalah bagian dari satu keluarga besar.

5. RAJA JOLO I MA RAJA, RAJA I MA RAJA NI PARTUBU

Kita menghormati para pendahulu dan sejarah keturunan kita.

6. RAJA NAPINAJOLO I MA ULUAN PARSADAAN

Kita menghormati para pendahulu dan pemimpin yang telah membangun parsadaan. Jabatan adalah tanggung jawab.

7. UHUM DOHOT HOLONG

Uhum dan holong harus berjalan bersama. Uhum memberi aturan. Holong memberi hati.

8. TAMPULON AEK DO NAMARHAHA MARANGGI

Hubungan persaudaraan harus tetap dijaga walaupun ada perbedaan.

VII. AD/ART, ADAT DAN HOLONG
PPTSB sudah mempunyai AD/ART.

AD/ART adalah pedoman organisasi. Adat adalah jati diri. Holong adalah dasar persaudaraan.
Ketiganya perlu berjalan bersama. Aturan harus dihormati. Adat harus dijaga. Persaudaraan harus dipelihara.

VIII. PERBEDAAN

Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Yang penting adalah bagaimana kita menyelesaikannya. Jangan sampai perbedaan pendapat menjadi permusuhan.

Jangan sampai perbedaan membuat namarhaha maranggi menjadi jauh. Kalau ada masalah, mari kita bicarakan. Kalau ada yang perlu diperbaiki, mari kita perbaiki. Kalau ada yang perlu diluruskan, mari kita luruskan. Semuanya untuk kepentingan parsadaan.

IX. GENERASI MUDA

Generasi muda kita adalah generasi yang hebat. Mereka mempunyai pendidikan dan teknologi. Mereka mempunyai cara berpikir yang berbeda dengan generasi kita. Karena itu, kita harus mampu menjelaskan adat dengan bahasa yang dapat mereka mengerti.

Timbangan berarti keadilan. Cermin berarti melihat diri sendiri. Uhum berarti aturan. Holong berarti kasih. Parsadaan berarti persatuan. Dengan demikian, nilai leluhur tetap hidup dalam kehidupan generasi baru.

X. UHUM DOHOT HOLONG

Bagi saya, Uhum dohot Holong tidak boleh dipisahkan. Uhum tanpa holong dapat menjadi keras. Holong tanpa uhum dapat kehilangan arah. Karena itu kita harus menjaga keduanya. Kalau mengambil keputusan, kita bertanya: Apakah sudah sesuai uhum?

Kemudian kita bertanya: Apakah sudah dilakukan dengan holong?

XI. HARAPAN UNTUK MUBES XVI

Saya berharap MUBES XVI menjadi kesempatan bagi kita untuk memperkuat kembali persaudaraan. Mari kita duduk bersama. Mari kita bicara dengan baik. Mari kita saling mendengar. Mari kita menghormati perbedaan.

Mari kita berpegang pada AD/ART. Mari kita menjaga adat. Dan mari kita menjaga holong. Saya tidak membawa pemikiran ini untuk memenangkan siapa pun. Saya hanya ingin mengajak kita kembali melihat nilai yang telah diwariskan para pendahulu.

XII. PENUTUP

Saya tidak merasa paling benar. Saya juga masih belajar. Tetapi saya merasa mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan apa yang saya lihat dan saya rasakan. Jangan hanya kita wariskan nama kepada anak cucu.

Wariskan nilai. Jangan hanya kita wariskan tugu. Wariskan maknanya. Jangan hanya kita wariskan organisasi. Wariskan persaudaraan. Mari kita membangun kembali: UHUM, HOLONG, PARSADAAN.

Mari kita ingat:

SINAGA SI TOLU OP, SISIA AMA.
BERBEDA CABANG, TETAPI SATU AKAR.
BERBEDA PANDANGAN, TETAPI TETAP NAMARHAHA MARANGGI.
TIMBANG DENGAN ADIL.
BERCERMIN KEPADA DIRI SENDIRI.
JAGA UHUM.
PELIHARA HOLONG.
PERKUAT PARSADAAN.

Kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Kita sedang membangun kembali apa yang baik. Kita tidak sedang kembali ke masa lalu. Kita sedang membawa nilai leluhur menuju masa depan.

UHUM DOHOT HOLONG UNTUK KEUTUHAN PARSADAAN TOGA SINAGA.
HORAS! HORAS! HORAS!

Drs. Sabam Sinaga (Op. Batara)
Ketua Dewan Pemangku Adat PPTSB Pusat

0 Komentar