Penandatanganan MoU Toba Caldera Unesco Global Geopark Oleh Bpk.Dr.Azizul Kholis GM.Toba Caldera UGGp dan Bpk.Ketua Umum PPTSB Pusat Ir.Edison Sinaga di Kantor Tosin 12 April 2026. (Foto-foto IST)
Medan-Komitmen menjaga bumi sebagai rumah bersama kembali ditegaskan dari kawasan Danau Toba melalui langkah strategis yang mempertemukan pengelola geopark dunia dengan kekuatan sosial budaya masyarakat adat.
Momentum tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark (BP TCUGGp) dan Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boruna (PPTSB), Minggu (12/4/2026).
Kesepakatan ini tidak sekadar bersifat administratif, tetapi diarahkan sebagai upaya konkret membangun sinergi antara pengelolaan kawasan geopark berstandar internasional dan partisipasi aktif komunitas lokal dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, budaya, serta ekonomi masyarakat di kawasan Danau Toba.
General Manager BP TCUGGp, Azizul Kholis, bersama Ketua Umum PPTSB, Edison Sinaga, menandatangani kerja sama yang mencakup periode lima tahun ke depan. Ruang lingkupnya meliputi pendidikan, inovasi, pengembangan pariwisata berkelanjutan, penguatan ekonomi lokal, pembinaan generasi muda, serta pelestarian budaya dan lingkungan hidup.
Kolaborasi Global Berbasis Kearifan Lokal
PPTSB memaparkan kiprahnya sejak berdiri pada 1940 sebagai organisasi kekerabatan besar masyarakat Batak yang tidak hanya bergerak di bidang sosial budaya, tetapi juga aktif dalam pelestarian lingkungan.
Sejumlah program yang telah dijalankan antara lain penghijauan berbasis marga, pembangunan kebun bibit tanaman keras, serta pengawasan kawasan hijau di sekitar Danau Toba sebagai bentuk tanggung jawab ekologis masyarakat adat terhadap tanah leluhur.
Di sisi lain, BP TCUGGp menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi memperkuat implementasi rekomendasi UNESCO, setelah kawasan Toba Caldera UNESCO Global Geopark kembali memperoleh status “Green Card”. Status tersebut menjadi indikator peningkatan tata kelola geopark setelah sebelumnya mendapat catatan evaluatif.
Ke depan, BP TCUGGp merencanakan sejumlah agenda strategis, di antaranya pengembangan geosite baru, penyelenggaraan Geofest 2026, perluasan program reboisasi kawasan kritis, serta penguatan jejaring geopark dunia melalui keterlibatan generasi muda.
Di tengah optimisme tersebut, sejumlah pihak mengingatkan bahwa tantangan utama bukan lagi pada perumusan konsep, melainkan implementasi.
Penggiat lingkungan sekaligus anggota Dewan Pakar PPTSB, Wilmar Eliaser Simandjorang, menegaskan bahwa keberhasilan kerja sama ini tidak diukur dari dokumen atau intensitas rapat, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat dan lingkungan.
“Kerja sama ini akan diuji oleh jejaknya di lapangan—apakah lingkungan semakin terjaga, masyarakat merasakan perubahan, dan generasi muda benar-benar dilibatkan,” ujarnya.
Ia menilai, selama ini banyak program konservasi menghadapi persoalan klasik berupa kesenjangan antara komitmen dan pelaksanaan.
Menurutnya, status geopark dunia menuntut standar kerja yang lebih tinggi dan tidak dapat dijalankan dengan pendekatan seremonial semata.
“Geopark kelas dunia tidak bisa dikelola dengan pola birokrasi rutin. Dibutuhkan keberanian mengeksekusi, konsistensi pengawasan, dan ukuran keberhasilan yang jelas,” kata Wilmar.
Peran Strategis Generasi Muda
Diskusi juga menyoroti pentingnya menjadikan generasi muda sebagai aktor utama dalam pengelolaan geopark ke depan.
Sejumlah gagasan mengemuka, mulai dari pengembangan ruang edukasi seperti museum tematik geopark, penguatan kurikulum berbasis lingkungan lokal, hingga pembentukan jejaring pemuda geopark yang terhubung secara global.
Kolaborasi antara BP TCUGGp dan PPTSB dinilai memiliki potensi menjadi model sinergi antara lembaga formal dan komunitas masyarakat dalam pengelolaan konservasi berbasis partisipasi.
Pertemuan ditutup dengan pesan yang tegas: kerja sama ini tidak boleh berhenti sebagai simbol atau agenda seremonial tahunan.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


0 Komentar